Senin, 20 Juni 2011

Kasih Sayang Seorang Ibu

Kasih Sayang Ibu

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.



Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.



Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.



Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.



Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.



Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak.”NGGAK MAU!!”



Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.



Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.



Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.



Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.



Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.



Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.



Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.



Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.



Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.



Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.



Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.



Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.



Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.



Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab,”Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”



Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,”Aku tidak ingin seperti Ibu.”



Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.



Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.



Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,”Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”



Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.



Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”


Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”



Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.



Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.(opinum.com) 

Jumat, 17 Juni 2011

Tipe - Tipe Mahasiswa

Tipe-tipe Mahasiswa

Sekedar informasi, mahasiswa bisa dibedakan menjadi beberapa kelas... Setidaknya ada 4 tipe dalam kalangan mahasiswa....

Yang pertama adalah tipe mahasiswa anak dosen..... Mahasiswa dalam tipe ini biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut... Mereka selalu hadir 100% dalam perkuliahan, bahkan mendahului sebelum dosen datang.... Mahasiswa tipe ini memiliki catatan paling lengkap dan biasanya diburu teman-temannya pada saat menjelang ujian... Biasanya mereka menguasai kursi-kursi bagian depan pada saat kuliah... Mereka tidak pernah mengenal istilah seperti membuat krepekan, bolos maupun titip absen. Nilai mereka selalu berkisar antara A sampai B... Biasanya mereka nyambi menjadi asisten dosen. Setelah mereka lulus pun biasanya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan kemudian mengabdikan diri kembali di kampus dengan menjadi dosen atau guru.

Tipe kedua disebut dengan tipe mahasiswa organisatoris.... Mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang senang dengan hal-hal berkaitan dengan birokrasi dan organisasi... Biasanya anda akan mendengar kata-kata LPJ, raker, fungsionaris, proposal ketika berdekatan dengan mahasiswa tipe ini... Dalam hal kuliah, mereka tidak selalu hadir 100% meskipun mereka tetap memberikan prioritas pada kuliah mereka.... Selain itu, mahasiswa tipe ini juga dikenal (hyper) aktif atau lantang dalam bersuara... Tak jarang jika mereka sering terlibat dalam aksi massa atau demonstrasi, meskipun mereka sendiri kadang nggak ngerti apa yang mereka demonstrasikan... Banyak dari anggota klan ini yang kemudian menjadi birokrat atau politisi.......

Yang ketiga adalah tipe mahasiswa Money Train..... Mahasiswa anggota tipe ini adalah tipikal mahasiswa yang seneng ngobyek... Obyekannya pun macam-macam.. Ada yang nyambi jaga wartel, jadi operator warnet, jualan, jadi penulis, dan semacamnya... Mata mereka memang nggak berwarna hijau, tapi mereka mulai memandang penting arti dari sebuah uang..... Bahkan mereka seringkali mengabaikan kuliah mereka demi mendapatkan segepok duit.... Wajar kalau mahasiswa golongan ini sering absen dalam kuliah... Tapi begitu lulus, mereka inilah klan yang paling siap dalam bertarung. ...Tak jarang bila anggota klan ini nantinya menjadi eksekutif top atau pengusaha yang sukses.....

Terakhir adalah kelas yang disebut tipe mahasiswa kongkow. Mahasiswa yang tergabung dalam klan ini boleh dibilang mahasiswa yang extrovert, gaul, funky abis, dan aware terhadap hal-hal terkini, seperti lagu terbaru, tren fashion, gosip artis, sampai gosip terbaru di kampus. Mereka ini sering stand by di kampus, walaupun bukan untuk melakukan kegiatan-kegiatan akademis. Selain di kampus, mereka sering terlihat di mall, pusat perbelanjaan, warung makan, kafe, bioskop, atau tempat billiard. Tipe mahasiswa ini sebagian adalah mereka yang nggak lulus-lulus kuliahnya alias mahasiswa abadi hehe...

Kira-kira Anda masuk kategori mana?

Minggu, 08 Mei 2011

Tips Menjadi Mahasiswa Sukses

Anda mahasiswa yang luntang-luntung kurang kerjaan? Sudah mulai mual ndengerin kuliah pak dosen? Mulai bete dengan suasana kos-kosan? Apalagi teman dekat sudah mulai pindah kos karena nggak tahan anda utangin terus hehehe. Pingin teriak sekeras-kerasnya tapi takut ditimpukin tetangga? Atau dulu punya mimpi pingin ikut mbangun republik tercinta, tapi jangankan itu, mbangun diri sendiri saja susah bo :)  Apa salah jurusan yah? Padahal dulu dah baca-baca tulisan tips dan trik memilih jurusan. Bingung karena nggak dapat apa-apa di universitas. Jadi makin terseok-seok dan tanpa ruh kalau baca tulisan tentang jenis mahasiswa. Hmmm … coba deh ikuti tulisan ini, siapa tahu ada tips yang cocok dan bisa bikin semangat bangkit.

  1. Bangun tidur, berdiri di depan kaca, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kos-kosan ini (Ya soalnya anda sendirian sekarang :D ) Kalau anda merasa itu kurang, ucapkan bahwa andalah yang terbaik di kelas anda atau terganteng di kampus anda. Yakinilah bahwa anda adalah manusia pilihan, paling tidak terpilih sebagai wakil desa anda yang bisa kuliah di universitas ini. Atau kalau lebih pede lagi, bilang bahwa andalah makhluk terbaik di muka bumi, ya memang benar, paling tidak dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan :P
  2. Mandi yang bersih, sisir dan rapikan rambut anda. Ambil handphone, bikin senyuman paling manis, foto wajah anda. Ulangi lagi kalau masih kurang enak dilihat. Kalau sampai 10 kali jepretan masih juga kurang enak di lihat, ambil secara acak saja. Mungkin wajah anda memang tidak terlalu enak dilihat :)
  3. Nyalakan komputer, akses internet, nggak usah ke mana-mana, langsung saja buka http://wordpress.com. Buat account blog di sana.
  4. Renungi hidup anda, ingat-ingat lagi perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang dan apa yang telah anda lakukan. Masuk ke menu administrasi http://wordpress.com, klik Write->Page. Buat tulisan dengan judul About Me, tuliskan resume, kisah hidup dan Curriculum Vitae (CV) anda. Tuliskan “apa saja” seluruh kegiatan anda di sana. Dari lahir, SD, SMP, SMA dan kuliah. Pernah jadi ketua OSIS, sekretaris, bendahara atau pesuruh OSIS? Atau pernah ikutan nyembelih kambing kurban, pernah jadi penjaga masjid, pernah bikin workshop komputer, pernah menang lomba balap karung, cerdas cermat atau lomba gambar di kampung. Tulis semuanya. Kerahkan seluruh ingatan anda, anggap saja nostalgia. Sekali lagi, tulis semua, apapun yang anda lalui di “Page” berjudul About Me tadi. Sudah puas? Klik “Publish“. Kalau ada yang kurang tambahi lagi, kalau merasa halaman itu nggak cukup dan harus tulis dalam OO Writer atau MS Word, copy and paste saja draft tadi. Jangan lupa convert ke PDF dan upload di halaman About Me. Perbaiki terus CV anda setiap ada kegiatan yang anda lakukan, sekecil apapun. Beri juga skrinsyuut kalau diperlukan. Oh ya, foto manis anda tadi jangan lupa dipasang di halaman About Me, kalau pingin contoh, termasuk gimana nempatan CV versi PDF cek di sini deh :)
  5. Sekarang ayok berdiri, jalan ke meja belajar anda. Kenangi kehidupan kampus anda, senangnya ketika diterima di universitas ini, semangatnya ikutan ospek (atau apa ya namanya sekarang?), dosen-dosen anda yang baik dan menyenangkan, nilai mata kuliah anda yang naik turun (yang pasti lebih banyak turunnya ;) ), dan mungkin juga teman-teman mahasiswi anda yang sudah menolak cinta anda :) Kenang semua. Olala, ada kenangan manis disaat anda berjaya dengan satu mata kuliah yang anda senangi, dosennya juga maknyus kalau ngajar, dan anda akhirnya anda mendapatkan berkah nilai A diantara tumpukan nilai C, D dan E.
  6. Mata kuliah apa itu ya, yang dulu anda senangi? Cari buku catatan anda, obrak abrik meja belajar untuk nyari buku textbook mata kuliah itu. Ketemu? Oalah anda ternyata jagoan Rekayasa Perangkat Lunak. Ok sekarang lihat lagi tulisan di buku catatan anda yang sudah lusuh. Cocokan dengan buku textbook. Sekarang tulis kenangan anda tentang mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak itu. Jangan tulis yang lain, konsentrasi saja ke satu mata kuliah itu. Tulisan apapun asal berhubungan dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Satu topik tulisan cukup 4-6 paragraf saja, jangan kepanjangan. Kalau belum puas, buat lagi topik lain, batasi juga 4-6 paragraf. Nulisnya di Write->Post lho ya, jangan lupa.
  7. Kurang bahan? Dulu kayaknya pernah pinjem buku bagus tentang Rekayasa Perangkat Lunak di perpustakaan? Ok, kebetulan dah masuk waktu dhuhur dan makan siang. Jangan lupa mampir dulu untuk sholat dhuhur di masjid samping kos-kosan, dan makan siang di warteg andalan. Ok, genjot sepeda ke kampus, langsung ke perpus. Cari buku kenangan anda tadi. Juga cari banyak berita dan tulisan populer tentang software dan metode pengembangan. Kalau perpus ada internet, balik lagi ke http://wordpress.com anda. Lanjutkan tulisan-tulisan anda.
  8. Ops nggak terasa sampai maghrib di perpus. Sholat, makan malam dan pulang. Ingat-ingat deh dulu kayaknya pernah ngerjain Tugas Mandiri berhubungan dengan software? Ok kumpulin file-filenya yuk. Dari mata kuliah apa saja lah, bisa Rekayasa Perangkat Lunak, Dasar Pemrograman, Pemrograman berorientasi Obyek, atau apapun. Kalau ada program yang dulu dibuat juga kumpulin. Dibahas saja program yang pernah dibuat, sekaligus dibagi gratis tuh codenya. Walah bisa jadi satu kategori baru tuh di blog :)
  9. Sebelum tidur, baca bismillah, dan ucapkan syukur hari ini anda sudah melakukan kegiatan yang sangat baik dan  produktif, kegiatan yang bisa membanggakan orang tua, teman, tetangga, dan dosen anda. Dan Insya Allah bisa menjadi bekal kontribusi anda ke republik tercinta ini.
  10. Bangun pagi, nggak usah kebanyakan tidur, anda bukan bayi lagi :) Sholat shubuh dan lanjutkan petualangan hidup anda.
  11. Sebelum masuk kuliah baca-baca buku dulu deh, hari ini pak dosen mau ngajari apa, siapa tahu bisa jadi bahan tulisan. Kalau ada waktu pagi bikin resume atau rangkuman bab yang pak dosen akan ajar. Insya Allah saya jamin anda akan masuk ke kelas dengan suasana yang berbeda. Anda tidak lagi tidur. Horeeee! Lho kok bisa, ya soalnya anda jadi pingin konfirmasi ke pak dosen, yang anda pahami dari rangkuman tadi bener nggak. Dan anda akan  nyimak karena anda berharap bisa jadi bahan tulisan. Ada kemungkinan anda akan lebih pinter dari pak dosen, karena kadang saking sibuknya ngerjain proyek, pak dosen kadang lupa belajar … hihihi. Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa dijawab pak dosen, anda angkat tangan saja, bilang bahwa pernah mengupas tuntas masalah itu, sebutkan URL blog anda. Bantu dosen anda jawablah, siapa tahu malah nanti diminta bantu dosen ngerjain proyek atau malah jadi asisten dosen. Cuman jangan galak-galak sama adik kelas yah, jaman dosen bangga karena nggak ngelulusin mahasiswa sudah kuno. Yang trend sekarang dosen gaul, kayak si broer sang dosen flamboyan (ngajar di semua kampus di jakarta bo) dan mbah IMW dari gundar :)
  12. Lanjutkan perdjoeangan. Mudah-mudahan semester ini tumpukan nilai A anda semakin banyak. Dan Insya Allah saya jamin, anda tidak akan kesulitan ngerjain skripsi atau TA di semester akhir. Kok bisa? Ya, anda sudah terbiasa banyak baca dan nulis, ini modal penting bikin skripsi. Logikanya kalau anda banyak nulis, pasti banyak baca tho :) Jangan lupa untuk submit artikel-artikel anda di IlmuKomputer.Com, prosedurnya ada di sini nih. Ini penting karena kabarnya numpang nampang di IlmuKomputer.Com bisa bawa hoki, bisa dapat jodoh, pekerjaan, project atau ketularan gemuk dari foundernya. Yang pasti bisa bantu ningkatin traffic blog anda :)
  13. Kalau kebiasaan 1-12 anda lakukan sampai anda lulus, Insya Allah anda tidak akan kesulitan mencari pekerjaan. Justru pekerjaan yang akan mencari anda. Tulisan-tulisan anda di blog sudah di-indeks oleh banyak mesin mencari. Bahkan mungkin kalau orang googling dengan keyword “Rekayasa Perangkat Lunak Indonesia“, yang muncul nomor satu adalah blog anda. Anda nggak perlu bawa CV ke mana-mana karena anda sudah tulis di blog anda. Tentu anda akan semakin surprise kalau ada penerbit yang nawarin membukukan tulisan-tulisan Rekayasa Perangkat Lunak yang anda telateni selama ini. Kesempatan jadi dosen bukan mimpi lagi, lha wong yang nulis bukunya anda je. Wajar tho sekalian ngajar ;)  Malah anda mungkin sudah ditokohkan oleh masyarakat Indonesia di bidang Rekayasa Perangkat Lunak? Amiiin. Cuman jangan sombong, sombong itu temannya setan :)
  14. Akhirnya, alhamdulillah anda telah sukses melewati kehidupan mahasiswa anda dengan baik. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena perdjoeangan anda sendiri, karena tangan anda sendiri, dan tentu saja pertolongan dari yang DIATAS. Jangan lupa, tetap lanjutkan perdjoeangan di kehidupan baru.

    oleh Romi Satrio Wahono

    Sumber : RomiSatrioWahono.net

Tips Mengatur Waktu Bagi Mahasiswa

Kehidupan sebagai seorang mahasiswa kadang bisa membuat Anda stress karena banyaknya kegiatan yang harus dilakukan. Untuk itu kali ini saya ingin share tips mengatur waktu agar tugas-tugas or aktivitas kita sehari-hari berjalan dengan baik.
  1. Beli kalender dengan kotak yang besar untuk menulis catatan tentang kewajiban harian Anda, termasuk pekerjaan Anda dan jadwal kelas.
  2. Baca semua silabus kelas secara menyeluruh pada awal semester.
  3. Tentukan program yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempelajarinya. Jauhkan novel atau buku lain dengan Anda untuk membaca di tempat kerja, di bus atau pada jam istirahat.
  4. Buatlah daftar proyek-proyek penelitian atau tugas pemecahan masalah  yang harus Anda selesaikan.
  5. Cari tahu tentang berbagai kegiatan yang diadakan UKM dll yang diadakan kampus Anda dan tentukan apakah Anda ingin aktiv di sana atau tidak, buatlah jadwal yang jelas untuk jika ingin ikut berpartisipasi di kegiatan itu.
  6. Memperhatikan akhir pekan dan liburan panjang dan tandai di kalender Anda. Tentukan proyek-proyek atau  tugas apa yang ingin Anda kerjakan di rumah atau selama liburan.
  7. Dalam satu minggu beraktivitas, berikan waktu untuk refresing atau olah raga agar fisik dan mental kembali fress dan tidak stress.
  8. Putuskan berapa banyak waktu yang dapat Anda berikan kepada diri Anda sendiri, teman-teman, orang tua or pacar Anda.
Sumber : brotherbangun.com

Memilih Jurusan Yang Baik di Perguruan Tinggi

Tips memilih jurusan yang benar di Perguruan Tinggi ....

Pada umumnya siswa yang telah lulus dari SMA, SMEA, SMK dan jenjang sederajat lainnya akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri / PTN maupun Perguruan Tinggi Swasta / PTS. Pada perguruan tinggi terdapat penjurusan mahasiswa berdasarkan subyek mata kuliah yang diambil. Setiap jurusan memiliki materi dan sifat pembelajaran yang berbeda-beda. Jurusan yang memiliki sifat yang serupa akan digabung dalam suatu fakultas, akademi, sekolah tinggi, dan lain sebagainya.
Memilih jurusan kuliah bukan urusan yang mudah dan bukan persoalan yang sepele. Banyak faktor yang harus diperhitungkan dan dipikirkan masak-masak. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal mulai dari kesadaran yang terlambat bahwa jurusa yang diambil tidak sesuai dengan kepribadian sampai pada drop out / DO atau dikeluarkannya seorang mahasiswa / mahasiswi karena dinyatakan tidak mampu mengikuti pendidikan yang diikutinya. Maka dari itu pemilihan jurusan sedini mungkin harus mulai dipertimbangkan. Salah pilih jurusan merupakan bencana dan kerugian yang besar bagi anda di masa depan.
Cara milih jurusan di Perguruan Tinggi yang baik :

1. Menyesuaikan Cita-Cita, Minat dan Bakat
Bagi yang telah memiliki cita-cita tertentu, maka lihatlah jrurusan apa yang dapat membawa menuju profesi atau pekerjaan yang diinginkan tersebut. Janganlah memilih jurusan teknik geodesi jika anda ingin menjadi seorang dokter ahli kandungan dan jangan pula memilih jurusan sastra jawa jika bercita-cita menjadi polisi.
Sesuaikan jurusan yang ingin diambil dengan minat dan bakat. Jika tidak menyukai hitung-hitungan janganlah mengambil jurusan matematika dan jika tidak menyukai menggambar jangan mengambil jurusan teknik sipil. Kemudian lihat bakat anda saat ini. Mengembangkan bakat yang sudah ada disertai dengan rasa suka dan cita-cita pada suatu jurusan studi akan menjadi pilihan yang tepat.

2. Informasi yang Sempurna
Carilah informasi yang banyak sebagai bahan pertimbangan anda untuk memilih jurusan. Cari dan gali informasi dari banyak sumber seperti orang tua, saudara, guru, teman, bimbel, tetangga, konsultan pendidikan, kakak kelas, teman mahasiswa, profesional, dan lain sebagainya. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain yang kurang menguasai informasi atau ikut-ikutan teman / trend.
Internet juga merupakan media yang tepat dan bebas untuk bertanya kepada orang-orang di dalamnya tentang apa yang ingin kita ketahui. Cari situs forum atau chating melalui messenger dengan orang yang dapat dipercaya. Semua informasi yang didapat dirangkum dan dijadikan bahan untuk membantu memilih jurusan.

3. Lokasi dan Biaya
Bagi orang yang hidup dalam ekonomi atas, memilih jurusan tidak akan menjadi masalah. Biaya yang nantinya harus ditanggung dapat diselesaikan dengan mudah baik dari pengeluaran studi, biaya hidup, lokasi tempat tinggal, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, lokasi dan biaya merupakan masalah yang sangat diperhitungkan.
Jika dana yang ada terbatas maka pilihlah lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikan tidak terlalu tinggi. Jika dana yang ada nanti belum mencukupi, maka carilah beasiswa, keringanan, pekerjaan paruh waktu / freelance atau sponsor untuk mencukupi kebutuhan dana anda. Jangan jadikan pula uang sebagai faktor yang sangat menghambat masa depan anda.

4. Daya Tampung Jurusan / Peluang Diterima
Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN dan PTS favorit. Pada umumnya memiliki kuantitas yang terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Jangan membebani diri anda dengan target untuk berkuliah di tempat tertentu dengan jurusan tertentu yang favorit. Anda bisa stres jika kehendak anda tidak terpenuhi. Buat banyak pilihan tempat kuliah beserta jurusannya.
Ukur kemampuan untuk melihat sejauh mana peluang menempati suatu jurusan di tempat favorit. Adanya seleksi masal yang murni seperti UMPTN, SPMB, Sipenmaru dan lain sebagainya dapat menjegal masa depan studi anda jika tidak persiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Pelajari soal-soal seleksi dan ikuti ujian try out sebagai percobaan anda dalam mengukur kemampuan yang anda miliki.
Namun jangan terlalu minder dengan hasil yang didapat. Jika pada SPMB ada 2 jurusan yang dapat dipilih, pilih satu jurusan & tempat yang anda cita-citakan dan satu jurusan lain atau lokasi lain yang sesuai atau sedikit di bawah kemampuan anda.

5. Masa Depan Karir dan Pekerjaan
Lihatlah ke depan setelah anda lulus nanti. Apakah jurusan yang anda ambil nanti dapat mengantar anda untuk mendapatkan pekerjaan dan karir yang baik? Banyak jurusan-jurusan yang saat ini lulusannya menganggur tidak bekerja. Tidak hanya orang dari jurusan tertentu saja yang dapat bekerja pada suatu profesi, karena saat ini rekrutmen perusahaan dalam mencari tenaga kerja tidak melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja, namun juga pengalaman. Tetapi jika kompetensi, keberanian dan kemampuan anda jauh dari orang-orang normal, maka jurusan apapun yang anda ambil sah-sah saja.
Biarkanlah hati dan akal sehat anda bicara tanpa adanya campur tangan dari orang lain. Konsultasikan dengan orang tua dan orang lain yang anda percayai. Pemilihan jurusan kuliah sangat menentukan masa depan anda. Selamat berjuang.

Sabtu, 07 Mei 2011

TIGA KIAT MENJADI MAHASISWA BERPRESTASI

Oleh : Arif Apriansyah[1]
Kuliah berjuta rasanya. Ada yang bilang kuliah itu asyik, banyak temen and saudara, tempat nyari jodoh (banyak juga loh yang sekarang suami-istri satu almamater), tapi ada juga yang berkomentar ‘nggak mau ah dapet jodoh se-kampus (kebanyakan kali… bayangin se kampus :-) ), tempatnya merubah diri, suatu kesempatan yang berharga, beda banget ama sekolah dulu di SMA/MA, tempat buat men-tarbiyyah ato ngembangin diri, bisa lebih dewasa, salah satu jembatan menuju kesuksesan, dan beragam komentar lainnya. Nah… Bagaimana dengan tujuan or motivasi ato harapan temen-temen selama kuliah nanti ? Buat CARI ILMU ato … ?!
Ana (saya) ingin berbagi pengalaman sama temen-temen. Pengalaman yang akan ana bagikan seputar tips and trik menjadi mahasiswa yang berprestasi selama kita kuliah. Semoga bisa kita amalkan bukan sekedar kata-kata.
Pertama : Bangunkan diri dengan motivasi kesyukuran.
Dari sekian banyak manusia kita termasuk hamba-hamba pilihan Allah yang beruntung. Kita masih diberikan kesempatan oleh Allah buat ngerasain bangku kuliah (bangku kuliah… gmana yah rasanya ? manis, pahit, atau…). sementara saudara-saudara kita yang lain jangankan kuliah untuk makan sehari-hari aja sulit. Makanya… yuuk kita syukuri salah satu ni’mat ini ! Syukur merupakan sumber motivasi diri. Ia (syukur) akan membawa kita ke dunia sungguh-sungguh, berprestasi, dan menjaga amanah orang tua kita (inget ga apa amanah ortu kita…?! lulus cepet, dapet pekerjaan atau membuka lapangan pekerjaan yang oke, and nikah, truz punya anak, punya rumah dan lain sebagainya). Katanya sih ada korelasi (kaitan/hubungan) antara cepet lulus dengan cepet nikah, bener ga yah…? (kok.. ke nikah sih..)
Kedua : Bawalah diri kita ke hal-hal yang positif
Setelah kita bersyukur, maka wujudkan rasa syukur itu dengan sesuatu yang baik contohnya : a) Mengupayakan sholat agar bisa khusyu, tilawah (baca qur’an) ditingkatin plus ngafalin sebagian atau seluruh ayat-ayat al-Qur’an, sholat sunnah juga jadi agenda (dhuha, qobliyyah-ba’diyyah, ato tahajud), gak ketinggalan juga dzikir di waktu pagi dan petang, selain itu b) Memaksakan diri untuk banyak membaca buku dan menulis (imam Al-Ghazali mengatakan jihad asy-syabab al-Qiro’ah wal kitabah), berikutnya c) Upayakanlah diri kita untuk hadir truz di kelas sewaktu jam kuliah, kalaupun absen jangan lebih dari 2 kali kecuali sakit ato ada urusan yang ‘nggak bisa ditinggalin (ma’lum orang sibuk), hal-hal positif lainnya adalah d) Datang ke kelas ga pake telat (GPT) alias tepat waktu (Imam syahid Hasan al-Banna mengatakan al-Waqtu huwal hayat -waktu adalah kehidupan-, orang yang dapat mengisi waktunya dengan baik maka hidupnya akan baik sebaliknya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang menyia-nyiakan keagungan Allah). Selanjutnya e) Berusahalah buat ngerjain tugas-tugas kuliah dengan baik dan tepat waktu, ambil hati dosen-dosen mu dengan ketaatan kita kepada mereka, insya Allah berkah. f) Ciptakan lingkungan yang kondusif; rumahmu syurgamu kampusmu madrasahmu. g) Berorganisasi (nah ini juga penting loh sebagai ajang pengembangan potensi diri. Alhamdulillah kami merasakan aktifnya kita di organisasi tidak membuat jeblok nilai kuliah justru sebaliknya kitalah bintang nya.
Ketiga : Mintalah do’a dan restu ortu
Subhanallah… senengnya kalo kita dapet do’a dan restu ortu. Pastinya Allah akan ridho dengan aktivitas yang kita lakukan (amin), ridollah fii ridhol waalidain. Klo ortu temen-temen sudah kembali kepada Allah (meninggal dunia), janganlah engkau bersedih hati (la tahzan) banyak yang bisa temen-temen lakuin misalnya doakan mereka atau buktikan klo temen-temen adalah anak yang bisa berbakti kepada mereka dengan pretasi terbaik yang temen-temen torehkan.
Itulah tiga kiat praktis yang bisa temen-temen coba semasa kuliah. Jadikan masa-masa ini adalah masa terindah dalam kehidupanmu. Bukankah kesempatan itu nggak datang dua kali. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang sholih dan sholihah.
Wallahu’alam bi ash-Showab.

[1] Mahasiswa Teladan 2006 (sekarang masih kuliah semester VIII Fakultas Agama Islam Program Studi Ekonomi Syari’ah). Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Intisyar UIKA Bogor Masa Amanah 2007.

Makalah Tentang BOS

KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr. wb.
Alhamdulillahirabbilalamin, puji serta syukur kita panjatkan kehadirat Illahi Robbi, karena berkat rahmat, karunia serta hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “EFEKTIVITAS PENGELOLAAN DANA BOS” . Tak lupa salawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjunan Nabi Muhammad SAW, kepada para sahabatnya, dan sampai kepada kita sebagai umatnya. Amin.
Penyusunan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi yang merupakan syarat kelulusan mata kuliah tersebut.
Adapun isi makalah ini mengenai dana BOS yang di dalamnya membahas tentang berbagai masalah dalam pengelolaan dana BOS, sebab-akibat, beserta solusi yang baik terhadap keefektifan dana BOS. Dibahas secara mendetail agar pembaca dapat dengan mudah bagaimana memahami pengelolaan dana BOS.
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pembuatan makalah ini. kami sadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena tak ada manusia yang sempurna. Kebenaran hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan bimbingan-Nya serta rahmat-Nya kepada kita semua. Amin.
Wassalammualaikum wr. wb.
                                                                                 Bandung, Januari 2011

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI. iii
BAB I  PENDAHULUAN.. 1
1.1 Latar Belakang Masalah. 1
1.2 Rumusan Masalah. 1
1.3 Tujuan Penulisan. 2
1.4 Manfaat Penulisan. 2
BAB II KAJIAN TEORI. 3
2.1 Latar Belakang Dana BOS. 3
2.2 Mekanisme Pencairan BOS. 4
2.3 Penggunaan Dana BOS. 5
BAB III PERMASALAHAN PENGELOLAAN DANA BOS DAN SOLUSINYA   9
3.1 Deskripsi Masalah. 9
3.2 Penyebab dan Akibat Masalah. 11
3.3 Solusi Permasalahan. 12
BAB IV PENUTUP.. 16
4.1 Kesimpulan. 16
4.2 Saran. 17

BAB I                                                                                 PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang Masalah

Meningkatnya kebutuhan dalam pendidikan, mendorong pemerintah Indonesia menyalurkan berbagai bantuan demi kelangsungan pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana bantuan operasional Sekolah (BOS) diperuntukkan bagi setiap sekolah tingkat dasar di Indonesia dengan tujuan meningkatkan beban biaya pendidikan demi tuntasnya wajib belajar sembilan tahun yang bermutu.
Namun kebijakan Dana BOS bukan berarti behentinya permsalahan pendidikan, masalah baru muncul terkait dengan penyelewengan dana BOS, dan ketidakefektifan pengelolan dana BOS, tujuan dari pemerintah sendiri baik, namun terkadang sistem yang ada menjadi bumerang dan mnghadirkan masalah baru, selain itu pribadi dan budaya manusia Indonesia ikut berpengaruh terhadap penyelewengan dan ketidakefektifan pengelolaan dana BOS. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama semua elemen dalam mewujudkan efektifitas pengelolaan dana BOS.
Oleh karena itu, kami memilih untuk mengangkat masalah pengelolaan dana BOS serta permasalahannya, sehingga mudah-mudahan makalah kecil ini bisa memberikan gambaran bagi para pembaca terkait dengan pengelolaan dana BOS serta permaslahannya, solusi yang muncul bukan berarti solusi terbaik, ini hanyalah sedikit sumbangan pemikiran dari kami untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.

1.2            Rumusan Masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam makalah ini, kami menyusun bebrapa rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini, rumusan terseut diantaranya :
  1. Apa permasalah yang muncul dalam pengelolaan dana bos?
  2. Apa penyebab dari timbulnya permasalahan tersebut?
  3. Bagaimana akibat dari permasalahan tersebut?
  4. Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut?

1.3            Tujuan Penulisan

Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk :
  1. Mengetahui pengertian dan landasan-landasan umum program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
  2. Agar dapat mengetahui bagaimana realisasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
  3. Dapat memahami kondisi-kondisi dunia pendidikan khususnya di tingkat dasar.
  4. Agar dapat mempelajari kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan yang muncul di lapangan.

1.4            Manfaat Penulisan

Kami berharap makalah ini bisa memeberikan manfaat baik bagi penyusun dan juga pembaca pada umumnya, diantaranya :
  1. Untuk menambah wawasan tentang program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
  2. Dapat mempelajari kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan khususnya mengenai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
  3. Dapat mengetahui penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang terjadi.

BAB II                                                                                                   KAJIAN TEORI

2.1 Latar Belakang Dana BOS

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan pengembangan lebih lajut dari Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Bidang Pendidikan, yang dilaksanakan pemerintah pada kurun 1998-2003, dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM yang dilaksanakan dalam kurun 2003-2005. BOS dimaksudkan sebagai subsidi biaya operasional sekolah kepada semua peserta didik wajib belajar, yang untuk tahun 2009 jumlahnya mencapai 26.866.992 siswa sekolah dasar, yang disalurkan melalui satuan pendidikan. Dengan Program BOS, satuan pendidikan diharapkan tidak lagi memungut biaya operasional sekolah kepada peserta didik, terutama mereka yang miskin.
            Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/Mts serta satuan pendidikan yang sederajat).
            Kenaikan harga BBM beberapa tahun belakangan dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan daya beli penduduk miskin. Hal tersebut dapat menghambat upaya penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, karena penduduk miskin akan semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pendidikan.
            Seiring meningkatnya beban subsidi BBM yang harus dibayar pemerintah karena semakin meningkatnya harga minyak dunia, pada bulan Maret dan Oktober 2005 Pemerintah melakukan pengurangan subsidi BBM secara drastis. Hal ini berdampak pada sektor kesehatan yang ditandai dengan semakin rendahnya daya tawar masyarakat untuk melakukan pengobatan atas penyakit yang dideritanya, serta berdampak pada sektor pendidikan yang ditandai antara lain dengan banyaknya siswa putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah serta ketidakmampuan siswa membeli alat tulis dan buku pelajaran dalam rangka mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Guna memperkecil dampak kenaikan harga BBM di sektor pendidikan, Masyarakat yang langsung merasakan dampak kenaikan harga BBM berupa melambungnya berbagai kebutuhan pokok, kesehatan, dan pendidikan adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
            Dalam rangka mengatasi dampak kenaikan harga BBM tersebut Pemerintah merealokasikan sebagian besar anggarannya ke empat program besar, yaitu program pendidikan, kesehatan, infrastruktur pedesaan, dan subsidi langsung tunai (SLT).
Salah satu program di bidang pendidikan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menyediakan bantuan bagi sekolah dengan tujuan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan beban bagi siswa yang lain dalam rangka mendukung pencapaian Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.
Melalui program ini, pemerintah pusat memberikan dana kepada sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk dikelola sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Besarnya dana untuk tiap sekolah ditetapkan berdasarkan jumlah murid.

2.2 Mekanisme Pencairan BOS

Pengalokasian/pencairan dana BOS dilaksanakan sebagai berikut:
  1. Tim Manajemen Pusat mengumpulkan data jumlah siswa tiap sekolah melalui Tim Manajemen BOS Provinsi, kemudian menetapkan alokasi dana BOS tiap provinsi.
  2. Atas dasar data jumlah siswa tiap sekolah, Tim Manajemen BOS Pusat membuat alokasi dana BOS tiap provinsi yang dituangkan dalam DIPA provinsi.
  3. Tim Manajemen BOS Provinsi dan Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota melakukan verifikasi ulang data jumlah siswa tiap sekolah sebagai dasar dalam menetapkan alokasi di tiap sekolah.
  4. Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota menetapkan sekolah yang bersedia menerima BOS melalui Surat Keputusan (SK). SK penetapan sekolah yang menerima BOS ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dewan Pendidikan. SK yang telah ditandatangani dilampiri daftar nama sekolah dan besar dana bantuan yang diterima (Format BOS-02A dan Format BOS-02B). Sekolah yang bersedia menerima BOS harus menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB).
  5. Tim Manajemen BOS Kab/Kota mengirimkan SK alokasi BOS dengan melampirkan daftar sekolah ke Tim Manajemen BOS Provinsi, tembusan ke Bank/Pos penyalur dana dan sekolah penerima BOS.

2.3 Penggunaan Dana BOS

            Penggunaan dana BOS di sekolah harus didasarkan pada kesepakatan dan keputusan bersama antara Tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru, dan Komite Sekolah yang harus didaftar sebagai salah satu sumber penerimaan dalam RKAS/RAPBS, di samping dana yang diperoleh dari Pemda atau sumber lain yang sah. Hasil kesepakatan penggunaan dana BOS (dan dana lainnya tersebut) harus dituangkan secara tertulis dalam bentuk berita acara rapat yang dilampirkan tanda tangan seluruh peserta rapat yang hadir.
            Dari seluruh dana BOS yang diterima oleh sekolah, sekolah wajib menggunakan sebagian dana tersebut untuk membeli buku teks pelajaran atau mengganti yang telah rusak. Buku yang harus dibeli untuk tingkat SD adalah buku mata pelajaran Pendidikan Agama, serta mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, sedangkan tingkat SMP adalah buku mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Adapun dana BOS selebihnya digunakan untuk membiayai kegiatan-kegitan berikut:
  1. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, yaitu biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, pembuatan spanduk sekolah gratis, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut (misalnya untuk fotocopy, konsumsi panitia, dan uang lembur dalam rangka penerimaan siswa baru, dan lainnya yang relevan).
  2. Pembelian buku referensi dan pengayaan untuk dikoleksi di perpustakaan (hanya bagi sekolah yang tidak menerima DAK).
  3. Pembelian buku teks pelajaran lainnya (selain yang wajib dibeli) untuk dikoleksi di perpustakaan.
  4. Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran pengayaan, pemantapan persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja, unit kesehatan sekolah, dan sejenisnya (misalnya untuk honor jam mengajar tambahan di luar jam pelajaran, biaya transportasi dan akomodasi siswa/guru dalam rangka mengikuti lomba, fotocopy, membeli alat olahraga, alat kesenian, perlengkapan kegiatan ekstrakulikuler, dan biaya pendaftaran mengikuti lomba).
  5. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah, dan laporan hasil belajar siswa (misalnya untuk fotocopy/penggandaan soal, honor koreksi ujian, dan honor guru dalam rangka penyusunan rapor siswa).
  6. Pembelian bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas, bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran/majalah pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, serta pengadaan suku cadang alat kantor.
  7. Pembiayaan langganan daya dan jasa, yaitu listrik, air, telepon, internet, termasuk untuk pemasangan barujika sudah ada jaringan di sekitar sekolah. Khusus di sekolah yang tidak ada jaringan listrik, dan jika sekolah tersebut memerlukan listrik untuk proses belajar mengajar di sekolah, maka diperkenankan untuk membeli genset.
  8. Pembiayaan perawatan sekolah, yaitu pengecetan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi sekolah, perbaikan lantai ubin/keramik, dan perawatan fasilitas sekolah lainnya.
  9. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer. Untuk sekolah SD diperbolehkan untuk membayar honor tenaga yang membantu administrasi BOS.
  10. Pengembangan profesi guru seperti pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS. Khusus untuk sekolah yang memperoleh hibah/block grant pengembangan KKG/MGMP atau sejenisnya pada tahun anggaran yang sama tidak diperkenankan menggunakan dana BOS untuk peruntukan yang sama.
  11. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah. Jika dinilai lebih ekonomis, dapat juga untuk membeli alat transportasi sederhana yang akan menjadi barang inventaris sekolah (misalnya sepeda, perahu penyebrangan, dll).
  12. Pembiayaan pengelolaan BOS seperti alat tulis kantor (ATK), penggandaan, surat-menyurat, insentif bagi bendahara dalam rangka penyusunan laporan BOS dan biaya transportasi dalam rangka mengambil dana BOS di Bank/PT Pos.
  13. Pembelian komputer dekstop untuk kegiatan belajar siswa, maksimum 1 set untuk SD dan 2 set untuk SMP, pembelian 1 unit printer, serta kelengkapan komputer seperti hard disk, flash disk, CD/DVD, dan suku cadang komputer/printer.
  14. Jika komponen 1 s.d 13 di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran, mesin ketik, mebeler sekolah, dan peralatan untuk UKS. Bagi sekolah yang telah menerima DAK, tidak diperkenankan menggunakan dana BOS untuk peruntukan yang sama.
Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah selain kewajiban jam mengajar. Besaran atau satuan biaya untuk transportasi dan uang lelah guru PNS yang bertugas di luar jam mengajar tersebut harus mengikuti batas kewajaran. Pemerintah Daerah wajib mengeluarkan peraturan tentang batas kewajaran tersebut di daerah masing-masing dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, faktor geografis dan faktor lainnya.

BAB III                                                                                     PERMASALAHAN PENGELOLAAN DANA BOS                               DAN SOLUSINYA

3.1 Deskripsi Masalah

Mulai pertengahan 2010, kemendiknas mulai menggunakan mekanisme baru penyaluran dana BOS. Dana BOS tidak lagi langsung ditransfer dari bendahara negara ke rekening sekolah, tetapi ditransfer ke kas APBD selanjutnya ke rekening sekolah.
Kemendiknas beralasan, mekanisme baru ini bertujuan untuk memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah dalam penyaluran dana BOS. Dengan cara ini, diharapkan pengelolaan menjadi lebih tepat waktu, tepat jumlah, dan tak ada penyelewengan. Harus diakui, masalah utama dana BOS terletak pada lambatnya penyaluran dan pengelolaan di tingkat sekolah yang tidak transparan. Selama ini, keterlambatan transfer terjadi karena berbagai faktor, seperti keterlambatan transfer oleh pemerintah pusat dan lamanya keluar surat pengantar pencairan dana oleh tim manajer BOS daerah.
Akibatnya, kepala sekolah harus mencari berbagai sumber pinjaman untuk mengatasi keterlambatan itu. Bahkan, ada yang meminjam kepada rentenir dengan bunga tinggi. Untuk menutupi biaya ini, kepsek memanipulasi surat pertanggungjawaban yang wajib disampaikan setiap triwulan kepada tim manajemen BOS daerah. Ini mudah karena kuitansi kosong dan stempel toko mudah didapat.
Kepsek memiliki berbagai kuitansi kosong dan stempel dari beragam toko. Kepsek dan bendahara sekolah dapat menyesuaikan bukti pembayaran sesuai dengan panduan dana BOS, seakan- akan tidak melanggar prosedur.
Tidaklah mengherankan apabila praktik curang dengan mudah terungkap oleh lembaga pemeriksa, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Ibarat berburu di kebun binatang, BPK dengan mudah membidik dan menangkap buruan. BPK dengan mudah menemukan penyelewengan dana BOS di sekolah.
BPK Perwakilan Jakarta, misalnya, menemukan indikasi penyelewengan pengelolaan dana sekolah, terutama dana BOS tahun 2007-2009, sebesar Rp 5,7 miliar di tujuh sekolah di DKI Jakarta. Sekolah-sekolah tersebut terbukti memanipulasi surat perintah jalan (SPJ) dengan kuitansi fiktif dan kecurangan lain dalam SPJ.
Contoh manipulasi antara lain kuitansi percetakan soal ujian sekolah di bengkel AC mobil oleh SDN 012 RSBI Rawamangun. SPJ dana BOS sekolah ini ternyata menggunakan meterai yang belum berlaku. Bahkan lebih parah lagi, BPK tidak menemukan adanya SPJ dana BOS 2008 karena hilang tak tentu rimbanya.
Berdasarkan audit BPK atas pengelolaan dana BOS tahun anggaran 2007 dan semester I 2008 pada 3.237 sekolah sampel di 33 provinsi, ditemukan nilai penyimpangan dana BOS lebih kurang Rp 28 miliar.
Penyimpangan terjadi pada 2.054 atau 63,5 persen dari total sampel sekolah itu. Rata-rata penyimpangan setiap sekolah mencapai Rp 13,6 juta. Penyimpangan dana BOS yang terungkap antara lain dalam bentuk pemberian bantuan transportasi ke luar negeri, biaya sumbangan PGRI, dan insentif guru PNS.
Periode 2004-2009, kejaksaan dan kepolisian seluruh Indonesia juga berhasil menindak 33 kasus korupsi terkait dengan dana operasional sekolah, termasuk dana BOS. Kerugian negara dari kasus ini lebih kurang Rp 12,8 miliar. Selain itu, sebanyak 33 saksi yang terdiri dari kepsek, kepala dinas pendidikan, dan pegawai dinas pendidikan telah ditetapkan sebagai tersangka.
Perubahan mekanisme penyaluran dana BOS sesuai dengan mekanisme APBD secara tidak langsung mengundang keterlibatan birokrasi dan politisi lokal dalam penyaluran dana BOS. Konsekuensinya, sekolah menanggung biaya politik dan birokrasi.
Sekolah harus rela membayar sejumlah uang muka ataupun pemotongan dana sebagai syarat pencairan dana BOS. Kepsek dan guru juga harus loyal pada kepentingan politisi lokal ketika musim pilkada. Dengan demikian, praktik korupsi dana BOS akan semakin marak karena aktor yang terlibat dalam penyaluran semakin banyak.

3.2 Penyebab dan Akibat Masalah

Penyebab timbulnya masalah-masalah dalam program BOS yaitu:
1.      Pengalokasian dana tidak didasarkan pada kebutuhan sekolah tapi pada ketersediaan anggaran. Hendaknya pengalokasian dana didasarkan pada kebutuhan sekolah, agar tidak terjadi saling tumpang tindih antara kebutuhan dengan anggaran yang disediakan. Adakalanya sekolah yang kebutuhannya sedikit, dan ada sekolah yang kebutuhannya banyak. Jika anggaran semua sekolah sama, di sekolah yang kebutuhannya sedikit akan memancing timbulnya korupsi karena anggaran yang berlebih, sedangkan di sekolah yang kebutuhannya banyak akan tetap mengalami kekurangan karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
2.      Alokasi dana BOS ‘dipukul rata’ untuk semua sekolah di semua daerah, pada tiap sekolah memiliki kebutuhan dan masalah berbeda
3.      Korupsi dana pada tingkat pusat (Kemendiknas) terutama berkaitan dengan dana safe  guarding
4.      Dinas pendidikan meminta sodokan atau memaksa sekolah untuk membuat pengadaan barang kepada perusahaan tertentu yang sudah ditunjuk dinas.
5.      Kepala sekolah menggunakan dana BOS untuk kepentingan pribadi melalui penggelapan, mark up, atau mark down.
6.      Uang yang dikeluarkan oleh orang tua murid cenderung bertembah mahal walaupun sudah ada dana BOS.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jelas terlihat bahwa didalam implementasinya, fungsi pengawasan sangat kurang. Tidak ada partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam proses implementasi anggaran di semua tingkat penyelenggara, Kemendiknas, dinas pendidikan, maupun sekolah. Pada tingkat pusat, proses penganggaran pun turut dimonopoli oleh Kemendiknas, akibatnya kepentingan Kemendiknas lah yang lebih terpenuhi, bukan mendahulukan yang perlu.
Penyebab yang lain misalnya pada tingkat penyelenggara (Sekolah dan perguruan tinggi), tidak ada aturan mengenai mekanisme penyusunan anggaran, warga dan stakeholder tidak memiliki akses untuk mendapat informasi mengenai anggaran sehingga mereka tidak bisa melakukan pengawasan. Lembaga pengawasan internal seperti Itjen, Bawasda, Bawasko, pun tidak mampu menjalankan fungsi. Serta pada tingkat sekolah, semua kebijakan baik akademis maupun finansial direncanakan dan dikelola kepala sekolah, dan komite sekolah dibajak oleh kepala sekolah sehingga menjadi kepanjangan tangan kepala sekolah.
Penulis berpendapat, cara penyelewengan dana BOS yang paling bisa terjadi adalah melalui setoran awal kepada dinas sebelum dana BOS dicairkan atau didalam sekolah itu sendiri berhubung sekolah tidak melakukan kewajiban mengumumkan APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah) pada papan pengumuman sekolah. Selain itu, penyusunan APBS terutama pengelolaan dana bersumber dari BOS kurang melibatkan partisipasi orang tua murid. Akhirnya, kebocoran dana BOS di tingkat sekolah tidak dapat dihindari. Serta dokumen SPJ (Surat Pertanggungjawaban) dana BOS yang kurang atau bahkan tidak dapat diakses oleh publik apabila ada kebutuhan informasi atau kejanggalan dalam pengelolaan dana BOS.

3.3 Solusi Permasalahan

Permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dana BOS memang sudah banyak disinyalir di beberapa tempat, namun tentunya juga hal ini tidak bisa digeneralisasikan di semua tempat dan kondisi penyalahgunaan wewenang tersebut terjadi, namun jika dilihat dari segi peluang atau kesempatan, banyak sekali peluang yang bisa digunakan oleh oknum untuk bisa melakukan penyelewengan. Oleh karena itu hal yang paling penting adalah meminimalisir kesempatan dan peluang supaya tidak bisa terjadi dan tidak ada kesempatan oknum untuk keluar dari aturan yang sudah berlaku.
Menghapuskan kebijakan pendidikan yang bersubsidi jelas bukan menjadi solusi, karena memang pada intinya pendidikan adalah kebutuhan primer yang harus terpenuhi, dan juga Undang-Undang kita telah mengamanatkan untuk memberikan layanan gratis untuk pendidikan dasar. Oleh karena itu, penghapusan sama sekali kebijakan BOS bukan merupakan solusi bagi kemelut pengelolaan dana BOS.
Namun, setidaknya ada beberapa langkah yang kemungkinan bisa diambil oleh pemerintah untuk menanggulangi permasalahan ini diantaranya :
  1. Peninjauan Kembali Kebijakan
UUD 1945 menyatakan bahwa pendidkan adalah hak bagi semua warga, terlebih pendidikan dasar untuk wajib belajar Sembilan tahun menjadi hak utama bagi warga Negara dan Negara wajib mengusahakan pembiayaannya. Ini menjadi amanat besar dan latar belakang utama kenapa dana BOS hadir dalam proses pendidikan wajib belajar 9 tahun. Namun pada kenyataannya tidak semua sekolah dan tidak semua warga Negara membutuhkan dan harus diberi subsidi untuk pendidikan dasar ini, hal ini terbukti dengan beberapa sekolah yang tidak menerima dana BOS,  tapi tetap menjual kualitas kepada customernya.
Peninjauan kembali bukan berarti penghapusan program, tapi pembaharuan design program BOS bisa menjadi solusi. Bisa saja pemerintah mengatur kembali pendanaan untuk sekolah yang sudah maju secara financial dan juga aturan yang khusus untuk warga Negara yang sudah tidak layak untuk mendapatkan subsidi.
  1. Dana Berkeadilan
Adil bukan berarti sama rata, bisa saja besaran antara yang satu dengan yang lainnya berbeda, tapi secara teknis dan hakikatnya besaran itu bisa mencukupi serta bisa digunakan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu dana yang berkeadilan sudah saatnya diberlakukan untuk pengelolaan subsidi pendidikan. Tidak sepantasnya peserta didik yang orang tuanya mampu secara financial, tapi masuk dan bersekolah di sekolah yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga disini dibutuhkan peran serta dari sekolah untuk benar-benar mendata peserta didik yang layak disubsidi.
Jika dana berkeadilan ini benar-benar diterapkan dalam system pengelolaan dana subsidi pendidikan, bisa saja kedepan orang tua akan beranggapan jika dia tergolong kedalam warga yang layak mendapatkan subsidi maka dia harus menyekolahkan anaknya pada sekolah bersubsidi, sedangkan untuk warga yang tidak masuk kedalam kategori layak subsidi menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tidak bersubsidi. Sehingga konsentrasi dana akan benar-benar terarahkan untuk peningkatan kualitas pendidikan, dan tidak ada kesenjangangn kualitas antara sekolah yang bersubsidi dengan sekolah yang tidak bersubsidi. Namun tentunya dana berkeadilan ini dibutuhkan sifat manusia Indonesia yang baik, tidak mendahulukan ego dalam bertindak dan sadar akan kepentingan umum atau social.
  1. Pengwasan yang Efektif dan Efisien
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen atau administrasi. Pengawasan merupakan tindakan yang berfungsi untuk memperhatikan kondisi yang terjadi di lapangan dengan kondisi yang diharapkan dari pembuat kebijakan. Kebijakan subsidi pendidikan yang tertuang dalam program BOS sudah seharusnya mendapatkan pengawasan yang baik dari pemerintah, karena ini merupakan program atau kebijakan pemerintah, sehingga perhatian untuk proses pengawasan pun harus diperhatikan. Selama ini pengawasan yang terjadi pada pengelolaan dana BOS cukup pada tataran pelaporan saja, sedangkan implementasi kenyataan di lapangan masih kurang, pihak pengawas, kantor dinas atau pemerintah, merasa cukup dengan laporan yang ada diatas kertas saja, padahal jika dilihat di lapangan, belum tentu sesuai dengan apa yang ada dalam laporan, sehingga disini benar-benar dibutuhkan pengawasan yang efektif dan efisien untuk menanggulangi penyalahgunaan wewenang dalam penggunaan dana BOS. Pengawsan melekat dan pengefektifan tenaga pengawasan yang ada bisa jadi menjadi solusi bagi pengawasan yang efektif.
  1. Pendampingan Dari Ahli Yang Kompeten
Tidak sedikit juga sekolah yang melakukan kesalahan dan penyelewengan tidak dengan sengaja, ada juga factor ketidktahuan, atau ketidaksengajaan, sehingga oleh oknum-oknum pendidikan diperdaya dan disalahgunakan. Oleh karena itu, pendampingan dari ahli yang kompeten bisa menjadi solusi untuk masalah ini. Ahli yang dimaksud bukan hanya professor atau dosen dari ahli keuangan, tapi minimal orang atau lembaga social yang faham pengelolaan pendidikan, sehingga pemahaman terhadap pengelolaan pendidikan akan menajdi dasar yang kuat bagi teknis pelaksanaan pengelolaan dana BOS. Hal ini dikarenakan di sekolah belum ada tenaga professional yang menangani manajemen sekolah, tenaga yang ada hanyalah lulusan SMA atau bahakan SMP, sedangkan untuk mengelola dana sebesar ini dibutuhkan beberapa kompetensi yang utama, disamping tentunya kompetensi manajerial.
Pendampingan bisa saja dari mahasiswa Administrasi Pendidikan, atau lembaga social lainnya yang bisa ikut mengawal dan menjadi mitra pendamping bagi sekolah. Hal ini bisa saja menekan penyalahgunaan dan ketidak tepatan penggunaan dana BOS di sekolah, terlebih lagi di daerah yang kemampuan guru dan tenaga kependidikan lainnya relatif berbeda dengan sekolah yang sudah lain.

BAB IV                                                                                             PENUTUP

4.1   Kesimpulan

Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Pendidikan juga memegang peran penting dalam pembangunan, sehingga kemajua pendidikan sangat dibutuhkan bagi suatu bangsa yang ingin menuju kemajuan. Untuk kemajuan pendidikan, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi dari berbagai elemen bangsa terutama pemerintah. Dalam UUD 1945, dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak bagi setap warga Negara, dan untuk program wajib belajar pendidikan dasar, pemerintah berkewajiban untuk mengupayakan pendanaannya. Selain itu, Perkembangan pendanaan pemerintah melalui APBN mengalami perkembangan, pengurangan subsidi untuk BBM mempengaruhi besaran subsidi untuk bidang lainnya, begitu juga dengan pendidikan, salah satu hasinya yaitu adanya pendanaan Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS) dalam pendidikan.
Mekanisme pencairan BOS pada awalnya berasal dari pusat, tapi sejak pertengahan 2010 dana BOS ditransfer ke pemerintah daerah yang akan menjadi sumber APBD. Shingga saat ini sekolah-sekolah tidak menerima langsung dari rekening pusat, tapi bersumber pada APBD. Penggunaan dana BOS diperuntukan bagi seluruh biaya operasional ruti sekolah, sedangkan untuk biaya pembangunan tidak berasal dari BOS.
Penyalahgunaan pengelolaan dana BOS banyak ditemukan di beberapa daerah, kasus yang paling sering adalah penggelembungan jumlah siswa, penyalahgunan dana, dan bahkan data dan pelaporan fiktif sering menghiasi surat kabar tentang penyelewengan dana BOS. Hal ini bisa juga dipicu oleh system yang berjalan, lemahnya pengaawasan dan partisipasi public yang kurang, sehingga menyebabkan tujuan dari adanya subsidi BOS sendiri menjadi kurang dan cenderung berkurang kebermanfaataannya.
Untuk itu diperlukan tindakan preventif dari setiap lembaga dan elemen dari bangsa ini untuk kemajuan dan pengefektifan pengelolaan dana BOS. Diantaranya solusi yang kami tawarkan adalah kembali mengkaji kebijakan yang sudah ditetapkan, karena satu kebijakan tidak mungkin langsung cocok pada tataran implemntasi. Selain itu, kebijakan dana berkeadilan juga bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan, karena kondisi orang tua dan siswa serta sekolah tidak semua sama, sehingga yang mendapatan subsidi adalah orang-orang yang benar-benar layak mendapatkan subsidi. Pengawasan yang lebih efektif dan efisien juga mendukung pencapaian tujuan dana BOS. Solusi lain yang bisa dicoba adalah pendampingan oleh ahli yang kompeten bisa mempermudah pengelolaan dan efektifitas penggunaan dana BOS, mahasiswa Administrasi Pendidikan, serta ahli dalam bidang manajerial pendidikan bisa menjadi pendamping utama dan ikut membantu dalam mengarahkan, hal ini dikarenakan kurangnya tenaga profesioanal terkait administrasi dan manajemen sekolah yang ada di sekolah.

4.2   Saran

Dari pemaparan makalah kami ini kami bisa sedikit memberikan saran kepada bebrpa pihak, baik pemabaca, pelaku pendidikan, ataupun pelaksana teknis pendidikan, diantaranya :
  1. Para stakeholder pendidikan (guru, kepala sekolah, siswa, orang tua murid, masyarakat) harus ikut mengawasi dan berpartisipasi aktif dalam proses pengelolaan dan BOS. Hal ini akan sangat berpengaruh kepada efektifitas penggunaan dan BOS.
  2. Para pelaku pendidkan atau pihak lembaga pendidikan untuk bisa kooperatif dan terbuka, asas tranparansi dan akuntabilitas harus dijadikan patokan dalam pengelolaan dana BOS
  3. Kepada pemangku kebijakan untuk tetap mengkaji dan mengevaluasi kbijakan yang dikeluarkan, termasuk efektifitas pengelolaan dana BOS.

Rabu, 09 Maret 2011

Makalah Manajemen Kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Studi tentang kurikulum dewasa ini semakin mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan yang menekuni bidang pengembangan kurikulum, teknologi pendidikan dan administrasi pendidikan. Studi ini dianggap menepati bagian terpenting dalam studi pengembangan kurikulum dan administrasi pendidikan. Hal ini wajar, sebab kurikulum adalah komponen penting dan merupakan alat pendidikan yang sangat vital dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Itu sebabnya, setiap institusi pendidikan, baik formal dan  non formal, harus memiliki kurikulum yang sesuai dan serasi, tepat guna dengan kedudukan, fungsi dan peranan serta tujuan lembaga tersebut. Jadi artinya, bermutu atau tidaknya sebuah institusi pendidikan sangat bergantung pada sistem kurikulumnya.
Menilik dari hal-hal di atas telah melatarbelakangi kelompok kami dalam menyusun makalah ini. Sebelum membahas pengembangan kurikulum lebih mendalam, alangkah lebih baiknya kita mengetahui teori-teori pendidikan dan kurikulum, karena ini merupakan fondasi untuk memahami pengembangan kurikulum.

B.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan memaparkan beberapa poin mengenai :
a.       Apa yang dimaksud dengan teori pendidikan?
b.      Bagaimana pendekatan-pendekatan dalam teori pendidikan?
c.       Apa yang dimaksud dengan teori kurikulum?
d.      Apa fungsi dari teori kurikulum?
e.       Bagaimana hubungan antara teori pendidikan dengan kurikulum?


C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan kami melakukan penulisan makalah ini adalah untuk :
a.       Menjelaskan pengertian teori pendidikan.
b.      Menjelaskan pendekatan-pendekatan dalam teori pendidikan.
c.       Menjelaskan pengertian teori kurikulum.
d.      Menjelaskan fungsi dari teori kurikulum.
e.       Menjelaskan hubungan antara teori pendidikan dengan kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Pendidikan
Kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu.
Nana S. Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan, yaitu :
1.      Pendidikan klasik
Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Eessensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.

2.      Pendidikan pribadi
Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).

3.      Teknologi pendidikan
Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.
Dalam teori pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus, berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual.
Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.

4.      Pendidikan interaksional
Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru.
Lebih dari itu, dalam teori pendidikan ini, interaksi juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta.
Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.

B.     Pendekatan-Pendekatan dalam Teori Pendidikan
Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan.
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).

1.      Pendekatan Sains
Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi. Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

2.      Pendekatan Filosofi
Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.           Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat preskriptif; (3) model filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir (disarikan dari Uyoh Sadulloh, 1994). Terdapat beberapa aliran dalam filsafat, diantaranya: idealisme, materialisme, realisme dan pragmatisme (Ismaun, 2001). Aplikasi aliran-aliran filsafat tersebut dalam pendidikan kemudian menghasilkan filsafat pendidikan, yang selaras dengan aliran-aliran filsafat tersebut. Filsafat pendidikan akan berusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan. Dari kajian tentang filsafat pendidikan selanjutnya dihasilkan berbagai teori pendidikan, diantaranya: (1) perenialisme; (2) esensialisme; (3) progresivisme; dan (4) rekonstruktivisme. (Ella Yulaelawati, 2003).Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.

3.      Pendekatan Religi
Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.
Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya.
Terkait dengan teori pendidikan Islam, Ahmad Tafsir (1992) dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya. Dengan demikian, teori pendidikan Islam tidak merujuk pada aliran-aliran filsafat buatan manusia, yang tidak terjamin tingkat kebenarannya.
Sementara itu, Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri : (1) memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan; (2) memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat dan (3) memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib.

Mengingat kompleksitas dan luasnya lingkup pendidikan, maka untuk menghasilkan teori pendidikan yang lengkap dan menyeluruh kiranya tidak bisa hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dengan memadukan ketiga pendekatan di atas yang terintegrasi dan memliki hubungan komplementer, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan semacam ini biasa disebut pendekatan multidisipliner.    

C.    Teori Kurikulum
Menurut para ahli, keberadaan teori kurikulum belum mantap atau dengan kata lain belum bisa dibentuk. Meskipun demikian, banyak ahli yang menyumbangkan buah pikirannya agar terbentuk teori kurikulum yang akurat. Karenanya, upaya-upaya ke arah terjadinya suatu teori kurikulum sebagai science  of curriculum terus dikembangkan. Kesulitan-kesulitan dalam menjadikan teori kurikulum disebabkan berbagai faktor, antara lain karena para ahli, yaitu:
James B. MacDonald, mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum merupakan an historical accident yang berlangsung secara kebetulan, acak dan tidak sistematis. Pemikiran mengenai kurikulum tidak dilakukan secara sistematis berdisarkan apa yang dicapai sebelumnya. Karenanya, pengembangan kuriku­lum mesti didahului dengan pembentukan sistem dan model konseptual yang seterusnya diuji melalw penelitian empiric yang sistematis (Nasution, 1993:175).
Colin Marsh dan Ken Stafford (1984:22-23) menyatakan bahwa: Granted that theory building in the field of curriculum is very difficult, it is worth considering wheather succesful theories have been produced in other fields of endeavor Scientific theories, such as in the physical and biological sciences, have been developed over many decades. Such theories usually contain wriable which systematize or unify research findings from seemingly unrelated phenomena, to generate research hypotheses, to make prediction and to provide explanation. Papat dipastikan bahwa membangun teori kurikulum itu merupakan pekerjaan. sulit. Mempertimbangkan yang berarti mengingat teori-teori yang sudah berhasil dibentuk ternyata memerlukan usaha yang keras. Teori-teori ilmu pengetahuan seperti dalam bidang fisika dan biologi telah dikembangkan selama berabad-abad.

Kesimpulan dari pendapat-pendapat di atas adalah terdapat bermacam-macam alasan mengapa sulit membuat teori kurikulum. Pertama, belum terdapat definisi kurikulum yang diterima secara umum. Defmisi tersebut mencakup dari hal yang sempit (berupa matapelajaran) sampai yang luas, yakni meliputi sernua kehidupan manusia. Kedua, belum bisa ditentukan dengan jelas mengenai batas-batas materi yang menjadi wilayah penelitiannya. Kembali kepada teori kurikulum, pada dasarnya bukanlah hal yang stabil atau mantap keberadaannya, sebagaimana diungkapkan di muka, namun is selalu berkembang mengikun perkembangan rains dan teknologi. Seperti halnya dalam mengambil keputusan praktis lainnya, teori dapat dimanfaatkan dalam pengambilan (keputusan praktik (pelaksanaan) sistem kurikulum dan sistem pendidikan yang memang memerlukan sifat elektif.
Berbagai asumsi utama yang diungkapkan para pembuat teori kurikulum (curriculum theories) adalah berbagai pertanyaan epistemologi mengenai pengetahuan yang diseleksi untuk isi kuri­kulum dan mengapa bisa seperti itu. Terdapat pertanyaan-perta­nyaan serupa yang telah dilontarkan para. pendidik selama bebera­pa abad. Mungkin tidak penting mengkhususkan isi secara khusus, namun yang penting adalah petunjuk-petunjuk dapat dibangun dan dibenarkan mengenai prinsip-prinsip umum penyeleksian.

Klasifikasi Theories dan Theorizing
Sebagaimana diterangkan di atas, terdapat banyak problem pokok dalam menciptakan teori-teori kurikulum, dan banyak yang berpendapat bahwa kita masih harus menghasilkan suatu teori kurikulum yang akurat dan dapat digunakan terus menerus. Tetapi, jika kita menggunakan kriteria bahwa suatu teori kuriku­lum, bersama dengan teori-teori yang lain, harus berisi petunjuk­petunjuk dan uraian elemen-elemen, maka dapat diargumentasikan bahwa terdapat sejumlah contoh teori-teori kurikulum.
B. F. Skinner mempunyai teori operant conditioning dan diusulkan sebagai suatu teori belajar pada tahun 1953. Akhirnya, dia mengaplikasikan teorinya dengan lebih langsung melakukan pengajaran di luar keras. Tetapi, teori itu masih menyisakan tan­tangan yang lain dalam mengaplikasikan teori Skinner ke dalam suatu area kurikulum yang lebih spesifik, seperti yang dilakukan Becker Engelmenn dan Thomas (1945).
Proses peneorian lain yang diusahakan oleh pekerja kuriku­lum dan spesialis yang bekerja pada bidang kurikulum menun­jukkan suatu spektrum keseluruhan yang menampakkan berbagai spesialisasi intuisi belaka dalam mendekati teori-teori. Hal itu tergambar pada bidang-bidang, seperti: 11mu. Psikoterapi, Sosiologi, Filsafat, Ekonomi dan Manajemen. Sebagian dari usaha-usaha ter­sebut menunjukkan suatu usaha keras dari individu-individu (contoh, Carl Rogers dan Paul Hirst), sementara yang lain me­nunjukkan usaha-usaha keras terhadap banyak individu dan ke­lompok (sebagai contoh unit teknologi pendidikan di USA dan UK).



1.      Skema Lain Klasifikasi
Skema klasifikasi digunakan untuk mempertahankan berbagai bagian berdasarkan dua kategori yang telah ada, yakni structured,/ controlled dan person-centered. Kategori pertama, structured/controlled category, dipilih untuk mencontohkan tingkatan dari proses peneorian yang terfokus pada perencanaan yang rasional, terfokus pada struktur, dan juga pada cara-cara pengawasan atau pengontrolan hasil (outcomes), selain juga melakukan pengontrolan sekolah secara umum. Yang termasuk dalam kategori ini adalah dua teori yang dikembangkan Taba dan Skinner.
Kategori kedua adalah the person-centered category yang memiliki penekanan atau perhatian pada lmgkungan sekolah. Upaya yang dilakukan kategori ini adalah membongkar seluk-beluk asumsi yang belum diuji mengenai persekolahan. Proposal dibuat demi kesadaran, harapan, dan kemungkinan yang akan dihadapi anak didik. Termasuk dalam kategori ini adalah contoh-contoh theorising yang dilakukan oleh Carl Rogers dan Wifliam. Pinar. Pada periode tahun 1950-an dan 1960-an, Carl Rogers dan koleganya mengembangkan pendekatan selj-'directed learning. Sedangkan konsep Pinar mengungkapkan suatu contoh kontemporer tentang self actualization anak didik dengan penekanannya pada self reflection dan aktivitas otobiografi.

2.      Contoh Structured/Controlled Category
a.      Teori Hilda Taba
Teori induktif yang dikembangkan Hilda Taba cenderun." memfokuskan pada proses berpikir, namun proyek pengembangar, kurikulum berikutnya telah menekankan suatu disiphn yang solid (Durkin et. al., 1997). Teori Taba merupakan salah satu teori (dari beberapa teori) yang telah terkonseptualkan secara penuh dalair, bentuk deskriptif dengan cara membenarkan penggunaan teori kurikulum.
Sebagai graduate student, Hilda Taba belajar di bawah bimbingan Ralp Tyler di Universitas Chicago, dan kemudian bekeria dengannya dalam beberapa bidang studi evaluasi termasuk pada Eight Year Study. Untuk beberapa tahun, dia mengajar di San Fransisco State University, dan kapasitasnya, sebagai dosen (lecturer) dan teacher menjadikan dirinya menjadi sangat terlibat dalam berbagai aktivitas pelayanan dengan pendidik di Contra Costa, suatu sekolah yang ada di wilayah San Fransisco. Teorinya merefleksikan pengalaman-pengalaman praktik yang la perlukan ketika bekerja dengan para pendidik dan la juga mendapatkan berbagai teknik yang muncul dari pengalaman mengajar tersebut, serta beberapa prinsip spesifik mengenai proses berpikir yang dia kembangkan dari para ahli teori belajar kontemporer dan juga dari para ahli psikologi perkembangan. Bukunya tentang teori kurikulum dipublikasikan pertama kali dalam suatu volume cetakan yang begitu besar, yakm Curriculum Development.• Theory and Practice pada tahun 1962 dan selanjutnya: Teaching Strategic and Cognitive Functioning in Elementary School Children (1996) serta Teacher's Handbook for Elementary Social Studies (1967).
-          Prosesl Fase
Model proses ala Taba adalah berdasarkan model Tyler, tetapi is memasukkan beberapa pengembangan tertentu pada fase-fase pokok. Suatu hal yang paling penting dari modelnya adalah fase diagnosis (diagnosis stage) yang teriadi secara bebas untuk membentuk tujuan (objectives); pengembangan strategi­strategi kognitif secara khusus, dan pengembangan yang efektif serta penggunaan berbagai pendekatan untuk mengevaluasi pengembangan dan pertumbuhan keterampilan-keterampilan berpikir anak didik (dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini).
-          Teacher's role
Peran pendidik atau guru dalam pendekatan Taba adalah sebagai inisiator atau questioner, oner, tetapi dalam suatu dukungan tindakan yang berorientasikan lingkungan. Terserah kepada pendidik dalam memulai tugas, apakah memulai dengan menyeleksi berbagai generalisasi yang penting sebagai fokus atau dengan menggunakan bidang isi yang lugs atau topik dari generalisasi-generalisasi yang akan dimunculkan secara alamiah. Pendidik mendiagnosis situasi awal dalam membuka pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan informasi.
-          Classroom Climate
Dasar pendekatan Taba adalah supportive dan co-operative di ruangan kelas yang mana anak didik dan pendidik dapat mengekspresikan ide-ide dan opini mereka tanpa ada rasa khawatir mendapatkan bahan tertawaan/ejekan. Dengan demikian, pendidik/guru bertindak sebagai inisiator dalam Ease-Ease atau susunan-susunan, sedangkan anak didik mungkin dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengambil alih inisiatif-inisiatif setelah mereka memahami prosedur-prosedur yang ada.
-          Curriculum Development Examples
Kurikulum untuk social studies yang utama, yakm K-8 Social Studies Curriculum, dikembangkan oleh Taba dan telah digunakan selama tahun 1960-an dan 1970-an yang berjudul: Taba Program in Social Science Grades 1-7 Program tersebut mencakup sebelas konsep yang diproses dari bidang-bidang ilmu sosial, meskipun penekanannya pada keterampilan pengembangan pemikiran ketimbang pada pengembangan isi.

b.      Teori Skinner
Skinner berpendapat bahwa metode pengaturan langsung reinforcement secara positif harus digunakan di sekolah. Anak didik tidak boleti belajar secara simpel dengan hanya memenuhi pengalaman saja. Lingkungan luar perlu juga dieter secara teliti agar anak didik menjadi responsif dengan berbagai pekerjaan dan konsekuensi yang akan mereka kontrol dengan hati-hati. Hal ini dapat dan harus dilakukan dengan prosedur reinforce­ment yang tepat.
Teori Skinner didasarkan pada empat dasar asumsi, dan asumsi tersebut perlu dipertimbangkan ketika mengembang­kan kurikulum yang akurat. Yang pertama, karena semua tingkah laku ditujukan kepada variabel-variabel yang efektif dalam menghasilkan tujuan-tujuan yang ia targetkan. Kedua, karena tingkah laku dapat diobservasi dan diidentifikasi, sehingga pendidik pun bisa berkonsentrasi pada observasi dan pengakuan anak didik. Dari sana kemudian, pendidik mampu mengatasi setiap masalah utama yang dihadapi anak didik. Ketiga, anak didik juga akan merespons dengan care-care yang unik terhadap stimuli yang same. Untuk selanjutnya, bantuan (dari seorang pendidik) harus dibuat dengan tingkatan yang berbeda rnenurt:' perkembangannya. Keempat, tingkah  laku anak didik dapa-, diubah oleh bentuk reinforcement meskipun tingkah laku masa lalu mereka mungkin mengalami perbedaan. Pendidik harus fokus pada setiap hubungan fungsional yang terjadi antara anak didik dan lingkungan mereka.
-          Process/leases
Fase terakhir dalam perencanaan kurikulum adalah mem­berikan kesempatan kepada umpan batik pads situasi ruangan kelas secara aktual. Data perlu dikoleksi, apakah semua respons dicapai oleh anak didik sebagaimana yang dimaksudkan atau tidak- jika mereka tidak mencapainya, defisiensi pun terbentang dalam teknik pelayanannya, dan menjadi sangat penting untuk memperbaiki contoh-contoh stimulus dan reinforcer.
Karena fase perencanaannya jelas, fase-fase implementasi aktual dilengkapi dalam pendekatan Skinner yang bisa kerangkakan berikut ini:
1.    Present a stimulus;
2.    Observe or model a response (optimal);
3.    Provide practice in responding to the stimulus;
4.    Reinforce appropriate responses as immediately as possible. Goyce & Well, 1980: 336).


-          Teacher's Role dan Classroom Climate
Pendidik yang melaksanakan atau mengaplikasikan pendekatan Skinner harus menjadi seorang ahli perencana dan seseorang yang dipersiapkan untuk melaksanakan struktur ruangan kelas dengan sangat memuaskan. Meskipun seorang pendidik boleh menggunakan beberapa mater yang dipersiap­kan secara komersial, namun dia masih mempunyai persiapan berdasarkan pertimbangan melalui susunan seperti yang terlihat pads Label 6 di atas. jika alat bantu dan perlengkapan komputer tersedia, pendidik punya kesempatan membimbing anak didik yang lebih besar jumlahnya dan efisien dalam waktu mengajar sehingga dapat digunakan pads suatu periode dengan kelom­pok tutorial kecil. Kesimpulannya, togas guru/pendidik a" A memberi kepastian bahwa stimulasi yang direncanakan sedang dipresentasikan dan bahwa the reinforcer diberikan kapan dan di mana hat itu dianggap tepat.
Anak didik dalam lingkungan ini pun diatur sesuai de­ngan bentuk-bentuk reinforcer baik yang, negatif maupun positif. Dalam kebudayaan kasus, mereka mungkin akan bekerja pads tugas-tugas individu, khususnya jika materinya merupakan pro­gram berdasarkan komputer atau program tekstual. Mereka akan sadar bahwa tingkah laku yang tidak tepat tidak akan diberi penghargaan (rewards, reinforcer) oleh pendidik atau guru mereka.
-          Curriculum Development Examples
Teks-teks program dan pengajaran dengan menggunakan mesin banyak dikembangkan oleh berbagai perusahaan selama tahun 1950-an. Meskipun hal itu masih digunakan di ruangan kelas, peningkatan atau perkembangan komputer canggih balk hardware maupun software telah mampu membuat suatu produk yang sangat membantu kepentingan pengajaran balk untuk anak didik pada tingkat dasar maupun menengah. Bibliografi secara besar-besaran yang dikembangkan oleh pro­gram Computer Assisted Instruction (CAI) sekarang telah tersedia.
Selanjutnya banyak program kurikulum utama yang telah dikembangkan berdasarkan teori Skinner. Dalam beberapa contoh, program tersebut dikembangkan untuk anak didik de­ngan pelajaran yang spesifik dan anak didik yang tidak normal secara fisik. Program serupa juga telah dicoba secara luas, dievaluasi dan disetujui dengan keberhasilan yang memuaskan, seperti program pengajaran yang dikembangkan W.C. Becker, S. Engelmann, dan Dr. Thomas dalam buku A Modular Revi­sion of Teaching.
-          Evaluation of The Theory
Teori Skinner  berisi serangkaian artikulasi yang balk dan proposisinya berdasarkan konsep-konsep reinforcement dan op­erant conditioning. Skinner dan teman-temannya berhasil me­ngembangkan teknik bahasa yang balk dengan begitu luas dan efisien dalam menjelaskan struktur-struktur dan proses-proses yang dilibatkan dalam implementasi teorinya tersebut.
Teori Skinner pun disebarkan oleh para pendidik secara besar-besaran pada masyarakat umum. Teori tersebut menjelas‑kan salah sate aema yang dihadapi manusia saat ini, yakni konflik antara teknologi dan alam (Milhollan dan Forisha, 1972).

3.      Person-Centered Category
a.      Teorisasi Carl Rogers
Carl Rogers mengembangkan pendekatannya setelah bekerja praktik dengan para invididu Nien) di berbagai klinik sehingga is mengklaim (seperti halnya Taba) bahwa prinsip-prinsipnya telah diuji di berbagai situasi praktik. Pendekatannya tertumpu pada self directed learning yang pertama kali dijelaskan dalam bukunya Client-Centered Therapy (1951) dan kemudian di Freedom to Learn (1969). Orientasi Rogers diklasifikasikan sebagai pendekatan kurikulum, dan publikasi-publikasi yang dilakukannya selama lebih dari setahun memberikan perhitungan dan pertimbangan yang mendalam dan total terhadap elemen-elemen perencanaan dan pengajaran yang diperlukan untuk mengimplementasikan pendekatannya di ruang kelas. Secara mendetail, hal akan diung­kapkan dalam bagian berikut ini.
-          Major Goals/Frame of Reference
Rogers membuat asumsti dasar bahwa manusia pada da­sarnya adalah makhluk yang bebas dan unik, Berta dapat membuat pilihan-pilihan dalam setiap situasi. Lebih lanjut, is mengungkapkan bahwa kesadaran manusia merupakan suatu pribadi yang esensial, sedangkan kehidupan dunia internal dan tingkah laku manusia merupakan ekspresi terhadap fungsi-fungsi internal yang dapat diobservasi. Di dalam lingkungan sekolah, terdapat berbagai fasilitas yang menempatkan:
1.     Pengembangan akal individu dalam realitas;
2.     Kekuatan-kekuatan internal yang menyebabkan individu bisa bertindak;
3.     Pengembangan konsep pribadi (self concept) individu itu sendiri (Millholm & Forisha, 1972: 98).
Berbagai aktivitas tersebut dikembangkan lagi ke dalam Sembilan prinsip, dan kemudian dengan bersama-sama mereka menggambarkan tujuan pendekatannya untuk mengembang­kan fungsi seseorang secara penuh yang berimplikasi pada proses kurikulum. Tetapi, problem utama perencanaan proses kuri­kulum adalah tidak mungkin bisa memprediksi pengembangan pengalaman belajar yang diperlukan oleh sekelompok anak didik atau tingkah laku yang akan mereka tunjukkan. Rogers menjamin bahwa tindakan anak didik akan menjadi Bah menurut peraturan, sehingga tidak banyak memberikan bantuan untuk tugas-tugas perencanaan.
-          Process/Phrases, Teacher's Role, Classroom Climate
Dalam pendekatan Rogers, tidaklah mungkin menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang proses pengembangan tradisio­nal, yakni apa yang akan diajarkan atau apa yang sesungguhnya ingin diketahui oleh anak didik? Proses-proses atau fase-fase kurikulum merupakan hal yang sangat sulit didefinisikan, namun sangatlah mungkin untuk memisahkan pengembangan dengan suatu keadaan fase-fase yang diyakini dan suatu penempatan fase-fase individu atau kelompok.
-          Bar Curriculum Development Examples
Satu hal yang perlu diperhatikan dari pendekatan kurikulum adalah jumlah dan tingkat materi kurikulum yang dihasilkan berdasarkan materi tersebut.Pendekatan Rogers,dengan penekanannya pada student-initiated learning,tidak kondusif dengan hal itu,dan fakta menunjukkan bahwa hal itu antitesis terhadap penyebaran produksi paket-paket mengajar.Jika administrasi dan norma-norma pelaksanaan di sekolah primary dan secondary tidak leluasa dilakukan,hal itu akan membuat para pendidik sulit mengembangkan dan mengimplementasikan aktivitas-aktivitas kelasa berdasarkan pendekatan Rogers.
Namun,ada bukti dimana sekolah mau mengaplikasikan prinsip-prinsip Rogers.Hal ini bisa kita lihat di berbagai daerah di Australia,di mana ada sekolah-sekolah alternatif yang mengembangkan prinsip Rogers,seperti Schools without Walls di Canberra atau Kids school in Perth.
Bukti adanya modifikasi peneorian (theoryzing) yang dilakukan Rogers bisa dilihat di sejumlah proyek ternama,seperti Man A Course of Study (MACOS),yang berusaha menganalisis pertanyaan-pertanyaan:Whats is human about human being?Sejumlah unit proyek materi pendidikan sosial,seperti dalam lingkungan keluatga,juga memakai prinsip-prinsip Rogers yang telah dimodifikasi.Begitu juga dengan peningkatan secara bertahap dalam penelitian orientasi materi yang dipakai dalam student project dan student contarcts yang merefleksikan beberapa aspek dari pendekatan Rogers.

-          Evaluation
Meskipun Rogers dan teorinya mendapatkan dukungan dari nilai-nilai kebebasan dan eksplorasi langsung itu sendiri dalam kepustakaan kurikulum,namun pendekatannya sangatlah filosofis.Pendekatan Rogers menurut Refers (1975) tidak lengkap,karena pendekatan itu mengabaikan nilai-nilai filosofis utama,seperti keyakinan atau kepercayaan dan moralitas.
Kliebart (1974:178) menyerang pendekatan itu,karena Rogers menggunakan bentuk terminologi fasilitator dan teaching dengan begitu luas.dengan mendefinisikan teaching sebagai bagian dari pengetahuan dan keterampilan,Rogers mengembangkan straw-mean sehingga dia kemudian mencakupkan banyak aktivitas lain yang menjadi bagian dari pemindahan suatu peranan hubungan yang sebenarnya tidak akan lebih baik dibandingkan penggunaan terminologi teacher.

b.      Pendekatan Teorisasi William Pinar
William Pinar sangat dipengaruhi oleh para ahli seperti Klohr,McDonald,Gren dan Heubner dalam studi akademiknya di Ohio Stat University pada akhir 1960-an.Pinar tertarik dengan berbagai pendekatan kurikulum,yakni pendekatan psikoanalitis dan fenomenologi.dia adalah penggerak yang kuat dalam mengadakan berbagai konferensi tahunan bagi para conceptualistis,khususnya bagi para curriculum theoritis,yang pertama kalinya dilaksanakan di Rochester,USA tahun 1973.
-          Major Goal/Frame of Reference
Pada dasarnya,Pinar melaksanakan eksperimennya berdasarkan prinsip kehidupan.Ia menganjurkan agar semua komponen pendidikan (pendidik dan peserta didik) mengusahakan dialektika internal (Pinar,1980)Yakni,seseorang merespons suatu ide,sebuah teks terhadap orang lain.cara kita merespons akan membuat kita mengerti,mengembangkan serta mentransformasikan perasaan dan fikiran kita.Melalui pengalaman hidup dan refleksi dialetika,kita dapat mengembangkan kualitas kehidupan kita dan kehidupan orang lain.Oleh karena itu,Pinar tidak memberikan tujuan-tujuan spesifik terhadap suatu aktivitas kurikulum.Ia menganggap bahea perencanaan sedapat mungkin harus dijaga dari kepentingan individu,sehingga tujuan-tujuan spesifik tersebut tidak tergambar atau terpengaruh oleh kepentingan individu dalam aktivitas tersebut.
Walaupun demikian,Pinar sebenarnya sudah memberikan tujuan-tujuan umum,dan hal ini akan memberi kita pengertian akan berbagai referensi pribadinya,yakni:
·         Yang paling penting dan utama dari seorang pendidik adalah mampu menganalisis dan merefleksikan bias-bias mereka sendiri.dengan demikian,pendidik harus mampu menilai diri dan berperilaku yang baik sebelum memasuki dunia kehidupan anak didik
·         Para pendidik rekonseptual (reconceptualized teachers) saat berhadapan dengan anak didik harus menggambarkan kejernihan sifat,harus kreatif,jujur.
-          Process/Phases
Pinar tidak memberikan langkah-langkah dalam perencanaan kurikulum,karena ia beragumen bahwa tidaklah mungkin mendesain suatu kurikulum untuk yang lain.tetapi,ia juga menyadari bahwa adakalanya individu juga ingin memulai dan menjalani pengalaman-pengalaman hidup mereka sendiri dengan menggunakan terminologi currere.Dalam memberikan contoh untuk currere,Pinar (1980) berharap anak didik mulai membaca buku-buku yang ia anggap menarik dalam beberapa hal.Tujuannnya adalah untuk memberikan teks kepada diri sendiri namun tidak untuk di interpretasikan.Anak didik merekam bagian-bagian yang dicatat oleh anak didik dan mendiskusikan tema-tema yang yang direprentasikan olehnya.Kemudian,anak didik mempelajari tiap tema sampai bagian-bagian tersebut diidentifikasi.Selanjutnya,anak didik menulis catatan pendek sebagai tambahan bagi kondisi autobiografinya sendiri.Pendidik dan anak didik kemudian membandingkan bagian-bagian teks itu dengan bagian autobiografinya serta mengadakan diskusi sehingga bisa menemukan dan menganalisis berbagai pengalaman untuk mendapatkan transformasi dari knower dan known.
-          Teacher’s Role dan Classroom Climate
Pinar hanya sedikit membahas tentang peran guru atau pendidik,kecuali yang ada kaitannnya dengan hal di atas,bahwa pendidik harus menunjukkan diri mereka sendiri dalam suatu analitis historis biografi yang sama dengan saat pendidik mempromosikan dirinya di hadapan anak didik.Setiap anak didik harus mereflesikan pengalaman-pengalaman hidupnya meski harus mengakui bahwa pengalaman tidak menjamin kesuksesan atau sesuatu yang menyenangkan.pendidik juga harus mendorong anak didik untuk menggunakan imajinasinya mereka sebagai sesuatu yang berharga dalam menumbuhkan perasaan emosional.Selain itu,mereka juga perlu menghadapi trauma-trauma pribadi dan memperkaya kepuasan hidup mereka(Feinberg,1985:87-88).
Dengan konteks tersebut,Pinar (1982) mengungkapkan bahwa caring (kepedulian) adalah bagian yang paling relevan dalam ruang kelas.Ia berkata bahwa pendidik yang peduli bisa menerima terhadap orang lain.Dengan menggunakan tatap muka,para pendidik dapat mendemontrasikan kepada anak didik.Dengan tindakan-tindakan mereka,pendidik dapat berkomunikasi terhadap anak didik dan itu merupakan hal yang jauh lebih penting dari materi pelajaran yang mereka ajarkan.Caring merupakan sesuatu yang bersifat tambahan,sesuatu yang tidak spesifik,dan hal ini merupakan sentral dalam suatu ruangan kelas.
-          Curriculum Development Examples
Sangat sedikit contoh yang tersedia untuk mengilustrasikan bagaimana teori pinar dapat diaplikasikan di sekolah.Pinar,sebagaimana dilaporkan dalam Feinberg (1985:92),mengakui bahwa ia tidak menyodori sekolah sekolah di Amerika serikat untuk mengimplementasikan a reconceptualized curriculum, namun ini dapat dimengerti,karena teorinya dan teori-teori yang lain masih dalam proses pembangunan langkah-langkah lebih jelas.Meskipun demikian,bisa saja suatu saat mendapatkan beberapa impresi awal (tentang bagaimana teori Pinar dapat diaplikasikan si sekolah,dari contoh koleganya yang diberikan oleh koleganya yang bekerja dalam suatu kerangka kerja (rekonseptualis).
-          Evaluation
Sangatlah sulit mengevaluasi kontribusi Pinar dalam proses teori kurikulum.Dalam mendeskripsikan teori dan proses pembuatan teori,tidaklah semuanya tepat untuk mengaplikasikan teorinya Pinar.
Kelemahan utama teori Pinar (dan pengamat reconceptualis lain) adalah kurangnya analisis sehingga hanya memberikan pengertian yang bersifat praktis (Van Manen,1978).Kesulitan lainnya adalah teori pinar hanya memberikan garis besarnya saja sehingga sulit dioperasionalkan.Meskipun para pendidik mungkin terpengaruh dengan tulisan-tulisannya,tapi mereka tampak kurang memahami bentuk-bentuk praktiknya di ruang kelas.
Namun demikian,terdapat sejumlah pengembangan berarti yang telah dicapai oleh Pinar dan pengikutnya.Pinar telah menstimulasi imajinasi-imajinasi para pendidik dan juga mengungkapkan berbagai kendala pendekatan-pendekatan tradisional kurikulum yang ada.Dia juga mengkritik bagian akhir perencanaan yang rasional terhadap contoh yang dianggap komprehensif dalam ulasannya dan memiliki tingkat keyakinan yang tinggi.

Pinar dan koleganya juga telah menghasilkan konsep-konsep dan bahasa baru dalam proses teorisasi kurikulum. Bahasa baru tersebut diperlukan untuk menjelaskan segala perbedaan prospektif dan hubungan yang cukup memadai. Pinar dan kolega-koleganya menggunakan bentuk-bentuk tekhnis seperti: bermeneutics (proses interpretasi), praxis (aktivitas aktivitas yang diterima dari sikap dan pemecahan masalah), reflexility (self-analysis),phenomenological (fenomena yang menjadi dasar pengalaman), problematic (definisi segala konsep bidang yang dikaji,yang tidak hanya dari bentuk-bentuk yang dimasukkan,tapi juga apa yang telah dikeluarkan), currere (membuat pengalaman pribadi dengan mengingatkan dan merefleksikan pengalaman-pengalaman masa lalu seseorang di sekolah yang memproyesikan harapan-harapan seseorang di masa mendatang). Kesimpulannya, Pinar dan koleganya telah memberikan sesuatu yang menarik.Mereka adalah para pembuat dan perencana kurikulum melaui tulisan-tulisan yang pertama muncul di sekitar tahun 1970-an.Meskipun ada sedikit bahaya di sekitar tulisan tersebut yang terlalu banyak berkomentar di berbagai media yang ada (Rogers). Yang paling penting dari sumbangan mereka adalah mereka mengajak kita untuk mempertinggi tentang berbagai fenomena kurikulum.

D.    Fungsi Teori Kurikulum
Teori merupakan suatu alat disiplin ilmu dengan menentukan orientasi ilmu tersebut;memberikan kerangka konseptual tentantg cara mensistemasi,mengategorisasi dan mengadakan interrelasi data;fakta-fakta menjadi generalisasi empiris dan sistem generalisasi;meramalkan fakta-fakta;dan memperlihatkan kekurangan-kekurangan dalam pengetahuan manusia mengenai disiplin ilmu.
Menurut Nasution (1993:172),terdapat dua pendirian dalam kaitannya dengan fungsi teori kurikulum tersebut.Pertama,memandang fungsi teori kurikulum sebagai kegiatan intelektual,misalnya dalam hal memahami hakikat pengalaman dalam pendidikan dan pengajaran secara internal dan eksistensial.Dalam kegiatan intelektual tersebut,mereka menggunakan intuisi untuk membantu menganalisisnya. Namun,penelitian empiris belum dilakukan,karena bagi mereka teori kurikulum yang dimaksud bukanlah untuk memberi pegangan dalam pelaksanaan kurikulum dalam aktivitas pengajaran.
Persoalan keunikan dan kebebasan individu serta temporalitas dalam eksistensi dipersoalkan oleh mereka,dan kurikulum dilihat sebagai usaha moril dan bukan sebagai persoalan tekhnis.Bagi mereka,tujuan teori kurikulum adalah mengembangkan dan mengkritik konsep-konsep mengenai kurikulum dengan harapan bisa ditemukan konsep-konsep mengenai kurikulum.Tidak banyak penganut pendirian yang berfilosofis tersebut.
Kedua,pendirian yang diambil oleh mayoritas para ahli teori kurikulum,yakni dengan cara mencari berbagai pendekatan (approach) rasional mengenai cara-cara atau metode-metode pencapaian serta tujuan pendidikan dengan mengandalkan data empiris agar dapat memvalidasi keunggulan alat-alat tersebut dalam mencapai sasaran yang ada,sehingga keterkaitan yang kokoh antara teori dan praktik bisa menjadi pegangan dari pendirian ini.Teori kurikulum juga memiliki fungsi yang sangat krusial (penting) yang berhubungan dengan penyusunan, pengembangan,pembinaan,dan evaluasi kurikulum pada khususnya dan pendidikan pada umumnya. Dalam kaitan ini,Subandijah (1993:11) mengungkapkan bahwa ada empat fungsi kurikulum ,yakni 1)Sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan dan memberikan alternatif yang mendetail dalam perencanaan kurikulum, 2)Sebagai landasan sistematis dalam pengambilan keputusan,memilih,menyusun dan membuat urutan isi kurikulum, 3)Merupakan pedoman dalam evaluasi formatif bagi kurikulum yang sedang berjalan, dan 4)Membantu mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan seseorang (pengembangan kurikulum)
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa fungsi teori kurikulum paling tidak memberi kerangka pegangan dalam pengembangan dan penelitian serta penilaian terhadap perkembangan kurikulum tersebut.Kemudian,fungsi kurikulum bisa juga untuk menjelaskan variabel-variabel yang berkaitan dengan aspek-aspek kurikulum yang dapat divalidasi secara empiris serta memberikan seperangkat prinsip dan hubungan yang dapat di tes secara empiris dalam pengembangan kurikulum.Akhirnya,fungsi teori tersebut merupakan aktivitas intelektual kreatif dengan mengembangkan,menganalis,dan mengoreksi sistem-sistem konseptual yang ada agar munculnya ide-ide dan cara-cara baru dalam pembicaraan kurikulum menjadi lebih bermanfaat atau berdaya guna dari sebelumnya,terutama bermanfaat untuk anak didik.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis.Kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan sehingga sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta masyarakat yang sedang membangun.Pengembangan kurikulum harus berdasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berlaku.Maksudnya agar hasil pengembangan kurikulum itu sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah, sehingga dapat memperlancar pelaksanaan pendidikan di suatu negara dalam rangka mewujudkan ciri-ciri pembangunan dan pendidikan nasional bangsa yang bersangkutan.
Pengembangan kurikulum tersebut selalu menggunakan berbagai prinsip dan pendekatannya. Hal ini mempunyai arti bahwa kurikulum itu diharapkan dapat menghasilkan output yang berkualitas,mempunyai nilai relevansi terhadap pengembangan atau apa-apa yang akan terjadi di masa mendatang.Dengan kata lain,program-program yang ditawarkan oleh dunia pendidikan diharapkan memiliki arti yang mendalam bagi anak didik,keluarga,dan bangsa menurut perkembangan zaman.
Pengertian relevansi pada konteks ini tidak selalu sama artinya dengan kurikulum pendidikan di negara lain,karena banyak faktor lain yang turut andil mempengaruhi.Di Indonesia,misalnya kurikulumnya berdasarkan pancasila,UUD 1945,dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN),dan itu sama halnya di negara tertentu yang akan mempunyai landasan tertentu pula dalam pengembangan kurikulum.Agar kurikulum mempunyai arti bagi anak didik,efektif dan efisien serta sesuai dengan tujuan pendidikan yang dicita-citakan,pemahaman mengenai prinsip dan pendekatannya menjadi tidak kalah penting.

E.     Hubungan antara Teori Pendidikan dan Kurikulum
Pendidikan merupakan ilmu terapan (applied science), yaitu terapan dari ilmu atau disiplin lain terutama filsafat, psikologi, sosiologi dan humanitas. Sebagai ilmu terapan, perkembangan teori pendidikan berasal dari pemikiran–pemikiran filosofis-teoritis, penelitian empiris dalam praktik pendidikan.dengan latar belakang seperti itu, beberapa ahli menyatakan bahwa ilmu pendidikan merupakan ilmu yang “belum jelas”. Hal itu diperkuat oleh kenyataan bahwa cukup sulit untuk merumuskan teori pendidikan. Teori-teori pendidikan yang ada lebih menggambarkan pandangan filosofis, seperti teori pendidikan Langeveld, Kohnstam, dan sebagainya, atau lebih menekankan pada pengajaran seperti teori Gagne, Skinner, dan sebagainya.
Menurut Beauchamp (1975, hal. 34), teori pendidikan akan atau dapat berkembang tetapi perkembangannya pertama-tama dimulai pada sub-sub teorinya. Yang menjadi subteori dalam dari teori pendidikan adalah teori-teori dalam kurikulum. Pengajaran, evaluasi, bimbingan-konseling, dan administrasi pendidikan.
Ada dua kecendrungan perkembangan ilmu pendidikan, yaitu :
-          Perkembangan yang bersifat teoritis yang merupakan pengkajian masalah-masalah pendidikan dari sudut pandang lain, seperti filsafat, psikologi dan lain-lain.
-          Perkembangan ilmu pendidikan dari praktik pendidikan. Keduanya dapat saling membantu, melengkapi, dan memperkaya. Dalam kenyataan, tidak selalu terjadi hal yang demikian. Hanya sedikit hasil-hasil pengkajian teoritis yang diterapkan para pelaksana pendidikan. Sebagai contoh: teori J.J Rousseau yang menekankan pendidikan alam dengan peranan anak sebagai subjek yang penuh potensi, hampir tidak ada yang melaksanakannya secara penuh., kecuali beberapa prinsip utamanya, itupun dengan modifikasi. Sebaliknya para pendidik dilapangan melaksanakan praktik pendidikan yang lebih didasarkan kebutuhan-kebutuhan praktis, sekalipun tidak banyak dilandasi oleh teori-teori yang kuat.
Selain itu, menurut Hugh C. Black dalam bukunya A Four-fold Classification of Edicational theories (1966), mengemukakan empat teori pendidikan yaitu, teori tradisional, teori progresif, teori hasil belajar, dan teori proses belajar. Teori tradisional menekankan fungsi pendidikan sebagai pemelihara dan penerus warisan budaya, teori progresif memandang pendidikan sebagai penggali potensi anak-anak, dalam teori ini anak menempati kedudukan yang sentral dalam pendidikan. Teori hasil belajar sesuai dengan namanya mengutamakan hasil, sedangkan teori proses belajar mengutamakan proses belajar.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.
Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Keberadaan teori kurikulum belum mantap atau dengan kata lain belum bisa dibentuk. Teori kurikulum, pada dasarnya bukanlah hal yang stabil atau mantap keberadaannya, sebagaimana diungkapkan di muka, namun is selalu berkembang mengikun perkembangan rains dan teknologi. Seperti halnya dalam mengambil keputusan praktis lainnya, teori dapat dimanfaatkan dalam pengambilan (keputusan praktik (pelaksanaan) sistem kurikulum dan sistem pendidikan yang memang memerlukan sifat elektif.
B.     Saran
Lembaga pendidikan semestinya dapat menghasilkan calon-calon penerus yang tinggi secara sumber daya manusianya. Oleh karena itu system pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsure pembentuk pendidikan yang unggul.
Dalam hal ini, ada tiga hal penting yang harus kita perhatikan dengan baik, yaitu :
1.      Kerjasama yang terpadu antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.
Ketiga hal ini  menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.
2.      Kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi.
Kurikulum sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap jenjangnya. Dengan adanya kurikulum yang sering gonta ganti akhir-akhir ini, pendidikan kita jadi sedikit membingungkan, apalagi bagi masyarakat awam.
3.      Orientasi pendidikan ditujukan pada kepribadian islam  dan penguasaan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat.
Ketiga hal ini merupakan goal yang kita tuju.berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.
Sistem pendidikan yang sekarang ini tentunya masih perlu banyak perbaikan disana-sini dan semestinya kita memperbaharui sistem yang ada untuk kebaikan kita semua. Berusaha terus untuk menghasilkan generasi berkepribadian islam yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia.



DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI dan PT Remaja Rosdakarya.
Idi, Abdullah. (2009). Pengembangan Kurikulum (teori dan praktik). Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Junaidi, Wawan. (2009). Teori Kurikulum. [online]. Tersedia: http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/11/teori-kurikulum.html/ [18 November 2010].
Sudrajat, Akhmad. (2008). Hubungan Teori Pendidikan dengan Kurikulum. [online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/teori-pendidikan-dan-kurikulum/ [18 November 2010].


Powered By Blogger